Ambon - Humas, Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon untuk masa mendatang akan mengembangkan Kota Ambon menjadi kota jasa perdagangan berbasis bisnis kelautan. Hal ini terungkap dalam paparan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappekot) Ambon, Syarif Tuasikal,SH saat berlangsungnya Workshop Kewang/LPP dengan tema “Mengelola Hutan Mangrove Melalui Pendekatan Pranata Adat Kewang dan Sasi” yang diselenggarakan di Gedung Rektorat Unversitas Pattimura (Unpatti), Senin (27/7) lalu.
Dijelaskan, salah satu langkah untuk mewujudkan hal itu, khususnya untuk kawasan teluk dan pesisir Kota Ambon, adalah dengan program Ambon Water Front City. Dalam konsep ini, sejumlah misi yang diusung Pemkot Ambon adalah melalui pengembangan penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung bisnis kelautan, meningkatkan kapasitas dan kapabilitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan tenaga kerja terampil untuk mengolah dan mengelola wilayah, mengembangkan dan membangun sarana dan prasarana untuk mendukung pengembangan kawasan teluk di kota Ambon, membangun sistem kelembagaan untuk mengelola kawasan teluk dan pesisir di Kota Ambon yang berbasis masyarakat, mengembangkan kajian dalam mendorong pengembangan dan pengelolan bisnis kelautan secara berkelanjutan serta melestarikan sumber daya pesisir atau pembangunan kawasan teluk dan pesisir Kota Ambon yang berkelanjutan.
Untuk itu, tandas Tuasikal, kebijakan dan strategi pengembangan Ambon Water Front City dikemas dalam beberapa bagian strategi yaitu komunikasi, mengelola, melindungi, melestarikan, membangun, mitigasi dan memberdayakan. Strategi komunikasi, adalah menyangkut pengembangan pendidikan informasi komunikasi kepada masyarakat, dalam pengelolaan kawasan teluk dan pesisir secara terpadu dan komperhensif, strategi mengelola mencakup peningkatan kapasitas teknis dan kelembagaan dalam pengembangan, pemanfaatan dan pengelolaan kawasan teluk dan pesisir Kota Ambon secara terpadu, menyeluruh dan berkelanjutan.
Strategi melindungi, adalah memberikan perlindungan terhadap ekosistem dan sumber daya alam pesisir dan tata kehidupan masyarakat dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan-kegiatan pembangunan. Strategi melestarikan adalam bagaimana upaya untuk memelihara nilai ekologis, sosial dan budaya pada kawasan teluk dan pesisir Kota Ambon guna memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat di masa yang akan datang.
Sedangkan menyangkut strategi membangun, dirinya menjelaskan, hal tersebut berkaitan dengan pengembangan sarana dan prasarana serta peluang investasi melalui kemitraan pemerintah, swasta dan masyarakat dalam rangka meningkatkan perekonomian kawasan teluk dan pesisir, yang bertumpu pada pengembangan jasa dan perdagangan pada bisnis kelautan. Strategi mitigasi, adalah upaya-upaya untuk mencegah, meminimalisir dan menanggulangi dampak bencana alam terhadap masyarakat dan infrastruktur ekonomi dan sosial yang ada. Serta strategi memberdayakan yang melingkupi upaya meningkatkan kapasitas SDM untuk berpartisipasi dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan teluk dan pesisir.
“Kota Ambon harus jadi kota perdagangan karena memang sejak dulu kota ini adalah kota perdagangan. Untuk itu kita menetapkan kota ini sebagai pusat transit bisnis. Karenanya, semua kegiatan perekonomian, perdagangan dan jasa ada di sini. Dalam skala nasional, Ambon dapat dilihat sebagai PKN yaitu Pusat Kegiatan Nasional atau pintu masuk di bidang ekonomi dan kebudayaan,” ujar Tuasikal.
Ditambahkan, dengan ketersediaan sarana yang ada seperti pelabuhan laut dan pelabuhan udara, sangat memungkinkan terjadinya transaksi ekonomi. Langkah - langkah kedepan, ia membeberkan, dimulai dari sistem tata ruang, secara keseluruhan Kota Ambon tetap dikembangkan sesuai tujuh wilayah pengembangan, salah satunya adalah proyek pengembangan Desa Passo, Kecamatan Baguala, menjadi Kota Ambon orde kedua (*)




