Ambon- Humas, Tidak selamanya sampah itu tidak berguna, penanganan dan pengolahan sampah dengan cara yang tepat, dapat merubah sampah yang semula dianggap tidak bernilai, hingga memiliki nilai ekonomis yang menguntungkan. Hal ini terungkap dari kunjungan Walikota Ambon Drs. M.J Papilaja, MS saat mengunjungi Instalasi Pengolahan Sampah Terakhir (IPST) di Dusun Toisapu, Desa Hutumuri, Kec.Leitimur Selatan, Kota Ambon, Rabu (29/7).
Dalam kesempatan tersebut walikota didampingi kepala kantor Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Ambon, Ir. Pieter Saimima, Msi. Di lokasi IPST yang dibangun sejak 2007 tersebut, rombongan Walikota disambut dan diajak berkeliling oleh kepala IPST, Ishak Batjeran. Selain melihat – lihat hasil pengolahan sampah berupa pupuk kompos yang dalam sebulan diproduksi hingga 8 ton, Walikota juga sempat berdialog dengan pegawai IPST dan para pemulung sampah plastik di lokasi tersebut.
Kepada ambon.go.id seusai kunjungan, Walikota mengatakan bahwa sejak IPST dibangun, berbagai manfaat telah dirasakan, salah satunya adalah sampah kini telah memilik nilai ekonomis dengan diolah menjadi pupuk kompos yang siap dijual bahkan hingga ke luar daerah.
Sample Image“Sampah kini memiliki nilai ekonomis. Diolah menjadi pupuk kompos, yang kemasannya sudah disiapkan, dan siap utuk dijual. Ternyata Sudah banyak pesanan yang masuk, dari hotel – hotel, bahkan hingga ke luar daerah,” ujar Papilaja.
Dirinya mengakui bahwa pengolahan sampah ini dimungkinkan karena IPST memiliki mesin – mesin pengolah sampah yang didatangkan dari pulau jawa pada bulan Mei yang lalu. Walaupun Mesin – mesin ini memiliki kemampuan untuk memilah dan mengolah sampah dalam jumlah besar, dirinya berharap masyarakat juga mulai membiasakan diri untuk dapat memilah sampah sendiri sebelum dibuang, sehingga kerja mesin tersebut tidak menjadi berat dan akhirnya cepat rusak.
“Yang kita harapkan adalah sampah basah dan sampah kering dipisahkan oleh masyarakat sebelum dibuang. Walaupun mesin baru ini canggih, namun pemilihan sampah sebelum dibuang, akan sangat membantu kerja mesin ini, sehingga tidak mudah rusak” jelas Papilaja.
Ditambahkan, pembangunan IPST ini telah diatur sedemikian rupa mengacu kepada konsep analisa dampak lingkungan yang aman dan bersih, hal ini dapat dibuktikan dengan instalasi pipa yang dibangun disepanjang lokasi pembuangan sampah yang dapat menyerap asap serta bau tak sedap dari sampah yang ada sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.
Selain itu, Papilaja menjelaskan,dilain sisi pembangunan IPST juga membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar, dimana jumlah penganguran berkurang karena lowongan kerja yang terbuka luas bagi mereka baik sebagai karyawan maupun sebagai pemulung sampah plastik
“Bisa dilihat sendiri bahwa IPST ini juga membantu kehidupan masyarakat di tempat ini, mereka dapat bekerja sebagai pegawai di sini, dan juga ada yang bekerja sebagai pemulung sampah plastik untuk dijual ke pabrik, ini meningkatkan taraf hidup mereka,” pungkas Papilaja. (*)





9 Oktober 2009 jam 20:04
Sampah, sering menjadi persoalan di berbagai tempat. Pengolahannya pun harus lebih efektif agar tidak menimbulkan bahaya seperti penumpukan yang menyebabkan musibah di Bandung beberapa waktu yang lalu.
Masyarakat mungkin lewat kelurahan-kelurahan dapat dibimbing untuk mengolah sampah rumah tangganya sendiri seperti pembuatan pupuk kompos skala rumah tangga. Sedangkan sampah plastik bisa dikreasikan menjadi bentuk seni kriya.
Yang perlu penangan serius seperti limbah medis, jangan sampai seperti limbah jarum suntik menjadi mainan anak-anak. Walaupun ditanam di dalam tanah, limbah medis ini cukup berbahaya karena dapat mengganggu keseimbangan lingkungan.